Aug 26, 2007

Perempuan dan Pelecehan Seksual

Pelecehan pembendaan dari kata kerja melecehkan
Melecehkan menghinakan, memandang rendah, mengabaikan
S
eksual hal yang berkenan dengan seks atau jenis kelamin, hal yang berkenan dengan perkara persetubuhan antara pria dan wanita [Kamus Besar Bahasa Indonesia]

Hati saya tercabik-cabik hari itu. Saat mengetahui seorang perempuan telah teraniaya seksual. Sebagai seorang korban, perempuan ternyata tidak punya banyak pilihan dalam menyikapi hari-hari pascakejadian. Bagaimana tidak, ada sebongkah trauma psikis hebat yang dialaminya sejak detik pertama pelaku memaksakan yoni-nya ke dalam liang yang tersiksa. Sebagai korban, perempuan pun hanya bisa memendam rasa malu karena harga keperawanannya telah hilang seketika. Bagaimana ia bisa menghadapi calon suaminya kelak, saat ia menagih mitzuage (darah malam pertama-merujuk pada novel Jepang)? Mungkin saat ini keperawanan bukanlah hal yang penting lagi bagi beberapa orang..yah, hanya beberapa orang bukan? Bagaimana dengan reaksi orang tua? Bagaimana kalau sampai hamil? Sebagai korban, perempuan pun hanya bisa membeli testpack atau cek kandungan.

Perempuan korban pelecehan seksual pun kehilangan hak untuk menuntut balas pada pelaku. Tidak ada keinginan untuk mencari, mendesak, memaksa pelaku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ada banyak alasan, seperti keengganan korban karena terlalu malu, kedekatan korban dengan pelaku (teman, partner kerja, saudara atau pacar), atau malah korban tidak menyadari dirinya dilecehkan.

Sebenarnya, legalisasi hukum Indonesia sudah jelas. Pelecehan seksual secara umum diatur dalam KUHP pasal 281-282. Bahkan, pasal 285 KUHP menyebutkan bahwa ”Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama 12 tahun." Tapi bukankah sebuah kejadian akan dianggap kasus bila ada laporan ke pihak berwajib* ? Dengan trauma psikis yang dialaminya, korban biasanya enggan melapor pada polisi. Terlebih lagi, bila korban mengenal dekat sang pelaku. Ketidaksadaran korban untuk melapor membuatnya kehilangan hak untuk memenjarakan pelaku.

Saat korban memiliki keberanian untuk melapor pun, korban butuh saksi dan bukti sahih terjadinya pelecehan seksual. Pasal 184 KUHAP, alat bukti yang sah adalah : (a). Keterangan Saksi; (b). Keterangan Ahli; (c). Surat; (d). Petunjuk; (e).Keterangan Terdakwa. Saksinya pun harus saksi yang berkualitas menurut pasal 185 ayat 2 KUHP, kecuali ada unus testis. Lantas, bagaimana dengan korban yang dilecehkan di tempat gelap tanpa saksi mata? Saat pelaku menyeret korban yang terbius ke tempat yang sepi? Kalau ia jawab saksinya Tuhan, ia tidak salah kan? Soal kualitas pun, tidak ada yang meragukan kualitas Tuhan selain kaum atheis.

Perempuan korban pelecehan seksual pun harus menghadapi traumanya seorang diri dan hanya bisa mengutuk pelaku dalam hati sepanjang hayatnya. Semoga ia mandul tujuh turunan!

*) bahasa yang Orde Baru sekali ya?


"Katakanlah saya seorang feminis, saya menulis ini bukan karenanya. Tapi karena saya tidak pernah mendengar laki-laki sebagai korban pelecehan seksual."


Apr 26, 2007

Cerita ini adalah cerita tidur untuk anakku perempuanku jika kelak aku diperkenankan untuk melihatnya, merawatnya dan mencium keningnya sebelum tidur.


AYAH, KARTINI AKAN MENJADI APA?

Difa Kusumadiani STEI'06


Anaku, malam ini ibu akan menceritakan kisah seorang putri yang tidak ingin disebut putri. Ia bernama Kartini, dan hanya dengan memanggil namanya saja ia akan menengok. Tidak ingin ia disebut Doro Putri atau nemanya dengan title Raden Ajeng.

“Ayah, Kartini kelak akan jadi apa yah?” tanya Kartini sepulangnya dari sekolah.

Orang tua itu terkejut dengan pertanyaan putrinya. Ia tidak menjawab. Memang ia tidak mau menjawabnya. Anak yang dicintainya itu tentu tidak akan mengerti. Jawabnya hanya sebuah senyuman,sementara tangannya terus mengusap-usap kepala anaknya. Kartini bertanya lagi, dan ayahnya hanya bisa tersenyum mendengar puri kecilnya menanyakan hal itu

Jika seorang Kartini tidak pernah sekalipun dalam benaknya menanyakan hal itu, Ia mungkin hanya akan menjadi Raden Ayu. Hanya menjadi istri seorang bangsawan seperti ibu-ibunya. Menjadi seorang raden ayu yang anggun, dengan langkah hampir tidak bersuara dan suara yang hampir tidak terdengar jika berbicara. Siapapun dapat menjadi aden ayu, tapi siapapun belum tentu bisa menjadi seorang Kartini yang kritis dalam kerangkeng adat yang juga sangat dia cintai.

Kartini lahir ketika marak pencabutan tanam paksa. Ayahnya adalah R. M. A. Sosroningrat, seorang bupati jepara dan ibunya bernama Ngasirah, anak dari mandor pabrik gula mojang. Ayah Kartini adalah bangsawan yang mendapat pendidikan Barat. Karena kakek Kartini , Pangeran Ario Tjondronegoro dari Demak, adalah bupati pertama di Jawa tengah yang memberikan putra-putranya didikan barat agar putra-putranya agar mendapatkan kemajuan dalam pendidikan. Ayah Kartini pun mengikuti jejak ayahnya dengan memberikan putra-putrinya pendidikan.

“Tidak, ayah tidak jahat,” kata Kartini kepada adiknya. “Ayah baik. Ayah sudah menyekolahkan kita. Padahal jarang anak perempuan ke sekolah jaman sekarang. Ayah baik. Betul-betul baik. Hanya adat yang kurang baik. Adatlah yang memaksa saya berhenti sekolah.”

Pendidikan resminya hanya sebentar. Ia dipingit ketika berusian 12 tahun. Namun karena pingitan yang dialami gadis bangsawan ketika beranjak dewasa seperti yang dialaminya, pelajaran yang didapatkan semakin matang. Ia semakin kritis dan memikirkan nasib kaumnya yang lain, kaum perempuan. Selama 4 tahun ia dipingit, ditemani surat-surat dari temen-temannya yang kemudian dibukukan dan berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan buku-buku kiriman guru dan teman-temannya . Ia Tidak diperbolehkan untuk melewati tembok gedung keasistenwedanaan, rumahnya sendiri karena memang itulah adat jawa yang diberikan kepada bangsawan perempuan.

Ketika berusia 16 tahun, pingitannya telah selesai. Hari masih pagi kala itu, dan di pagi itulah untuk pertama kali Kartini melihat dunia luar. Pada hari itu mereka menghadiri pentahbisan gereja baru.Dan mungkin Karena kunjungan itulah Kartini juga sangat menghormati kaum Nasrani. Sebenarnya pembebasan itu belum bersifat resmi, sekalipun orangtuanya sudah menolak kebiasaan memingit. Mereka masih di tahan di rumah dan lambat laun lebih sering akhirnya mereka bepergian.

Tidak lama dari pembebasan pingitan Kartini, Ia diperkenalkan kepada Tuan dan Nyonya Ovink. Kedua orang belanda ini sangat heran mendengar seorang perempuan jawa berbicara bahasa jawa dengan lancar. Sementara ayahnya berbicara dengan Tuan Asisten Residen Ovink, Nyonya ovink mengajukan pertanyaan pada Kartini dan kedua adiknya. Baru pertama kali ia mempergunakan bahasnya dengan perempuan pribumi. Karena kelancaran bicara dan kecedasan Kartini, ia sering diundang untuk bercakap-cakap di rumah keluarga Ovink.

“Mereka semua tidak bersekolah ,Nyonya . Alangkah baik jika dibuka sewaktu waktu dibuka sekolah untuk mereka.” Seraya Kartini menunjuk ke arah beberapa perempuan yang berdiri di pinggir jalan.

“Bukankah mereka semua berbahagia? Lihat saja bagaimana mereka tertawa.” Nyonya itu mencoba menjawab.

“Berbahagia? Saya banyak sekali mendengar tentang kehidupan mereka. Menyedihkan sekali. Karena mereka tidak disekolahkan. Jika mereka diberi kesempatan untuk bersekolah, keadaan tentu lain.” Jawab Kartini menanggapi.

Hal kritis seperti itu pun penah juga diungkapkan Kartini ketika mlihat kerajinan jepara bersama nyonya Ovink. “ Lihatlah perempuan-perempuan itu Nyonya, mereka buta huruf dan kurang gizi. Padahal kerajinan yang dibuat oleh putra-putra dan suami mereka sangat indah. Saying sekali bukan?”

Nyonya Oving pun memperhatikan perempuan-perempuan yang memakai kutang kusam dan kulit hitam legam kasar, perempuan-perempuan yang sedang meneteki anaknya sembari menyembah. Iapun menceritakan apa yang Kartini katakana kepada suaminya. “Bangsa ini akan segera mempunyai pahlawan perempuan, semoga ia dikaruniai hidup panjang.” Kata Tuan Ovink sembari tersenyum.

Sungguh seorang Raden Ajeng yang kritis dan memerhatikan lingkungan sekitar. walau baru saja menapaki dunia di luar tembok keasistenwidenaan. Kritis dan peduli pada perempuan di daerahnya yang dikekang adat. Perempuan-perempuan jawa yang tidak diperbolehkan untuk cerdas, menahan kelakuannya agar terlihat pendiam.

Mengapa perempuan terus yang diperhatikan Kartini? Mengapa ia tidak terlalu konsen akan nasib laki-laki di daerahnya? Karena perempuan jawa adalah kelas dua dalam keluarga. Anggota keluarga yang berjenis kelamin laki-laki harus makan kenyang terlebih dahulu baru perempuannya. Anak laki-laki bengsawan disekolahkan, sedang anak perempuannya di rumah saja. Hanya beberapa perempuan bangsawan seperti Raden Ayu di keluarga Kartini saja yang berkesempatan mengikuti pelajaran di sekolah walaupun pada usia 12 tahun mereka harus dipingit.

Kartini berpikir jika perempuan mendapat pendidikan, maka setiap keluarga akan lebih terjaga kesehatannya. Karena perempuanlah yang mengatur kesehatan keluarga, yang mengurus anak, yang memasak, da mengurus rumah. Jika keluarga sehat, maka keluarga akan lebih sejahtera. Ini menarik, Kartini adalah Keluarga bangsawan, seorang perempuan, yang juga dibebani adat, perempuan di zamannya yang berpikir kritis, peduli, memikirkan sekitar, dan terus mencoba untuk memajukan kaumnya yang terbelakang, yang juga mengurangi kesulitan tiap keluarga di daerahnya.

Tidak hanya sebatas kata dan surat saja yang ia persembahkan untuk kaumnya, tapi juga sekolah perempuan yang awalnya sederhana hingga menjadi besar dan banyak perempuan yang mengikutinya. Dari perempuan abdi keasistenwidenaan dengan sekolah berbetuk pendopo di belakang keasistenwidenaan hingga gedung yang diberikan pemerintah Hindia Belanda.

Sebuah persembahan yang diberikan oleh Kartini untuk kaumnya, bahwa perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan. Hal besar yang berawal dari pertanyaan Kartini ketika kecil, “Yah, Kartini akan menjadi apa?” Yang mungkin dapat kita jawab sekarang, “ Ibu, Kau sudah menjadi contoh yang besar bagiku. Kau telah menjadi guru yang mengajarkan bahwa kami,perempuan, berhak belajar, bahwa kami berhak mewudkan apa yang kami cita-citakan , bahwa kami juga berhak menjadi pahlawan sepertimu, walau nama kami bukan Kartini. Walau kami bukan Perempuan yang mempunyai nama Raden Ayu sepertimu.”

Begitulah anakku, cerita seorang perempuan, yang berada di zaman yang berbeda darimu. Beruntunglah kamu yang berkesempatan untuk belajar dan menemukan pertanyaan akan menjadi apa kamu nanti dengan pikiranmu sendiri. Selamat tidur…..

HABIS GELAP SUDAHKAH TERANG?

Eva Bachtiar TI'03

Whatever women do, they must do twice as well as men, to be thought half as good. Luckily, this is not difficult.” Charlotte Whitton

Tanggal 21 April datang lagi, Hari Kartini datang lagi. Gaungnya di kampus kita mungkin memang tidak lagi segempita saat kita semua masih SD, dimana semua anak-anak serempak menggunakan pakaian adat, kebaya, batik, dan sejenisnya. Waktu itu kita juga mungkin masih belum terlalu paham tentang apa sebenarnya yang diperjuangkan Kartini hingga kita semua secara khusus memperingati hari tersebut untuk mengenang beliau.

Hari Kartini dan Hari Perempuan

Selama ini terdapat banyak perdebatan tentang asal-usul hari Kartini itu sendiri. Kenapa hanya Kartini yang disebut-sebut sebagai pahlawan emansipasi wanita? Kenapa bukannya Cut Nyak Dien atau Dewi Sartika misalnya? Lalu kenapa juga harus diperingati sebagai Hari Kartini dan bukannya Hari Perempuan?

Bila kita menilik lebih jauh perjuangan yang dilakukan Kartini, maka kita akan menyadari bahwa Kartini memang sosok yang tepat untuk menyandang gelar tersebut. Tanpa bermaksud untuk mengecilkan jasa Cut Nyak Dien, Kristina Martha Tiahahu, dan Dewi Sartika, mereka memang pahlawan hebat di masanya masing-masing (bahkan Cut Nyak Dien tanpa ragu-ragu turut angkat senjata melawan penjajah), namun satu hal yang perlu diperhatikan adalah mereka tidak pernah bersuara lantang tentang nasib perempuan. Berbeda dengan Kartini yang -walau dikungkung tembok rumahnya dan berada dalam pingitan sekalipun, terus berpikir tentang kesetaraan dan nasib perempuan. Selain itu, hanya beliau yang hampir seluruh pemikirannya terdokumentasikan dengan baik, hingga dapat diteruskan pada generasi di bawahnya.

Orang bisa berkata bahwa yang dilakukan Kartini hanyalah menulis surat. Tapi, itu terjadi pada awal abad 20. Ia “hanya” orang Indonesia, “hanya” perempuan pula. Tapi ia bicara fasih dalam bahasa Belanda dan menyebarluaskan ide dan pandangannya tentang feminisme. Bayangkan, feminisme yang saat itu merupakan wacana yang belum familiar bahkan di Barat. Jadi tak salah lagi, Kartini adalah ikon perempuan yang berani bersuara.

Pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang dikenal sebagai Hari Kartini. Lalu apa keistimewaan Kartini hingga di antara sekian banyak hari besar, hanya ia yang dijadikan nama hari? Jika dokumentasi karya adalah patokannya, perjuangan Bunda Theresa misalnya, tidak membuatnya mendapat kehormatan untuk mendapat Hari Theresa meskipun pikiran yang beliau cetuskan bahkan telah diakui oleh sebuah Nobel. Hari kelahiran Buddha, Yesus, Muhammad, Soekarno, juga tidak dijadikan ”Hari+Nama mereka” untuk memperingatinya, padahal mereka semua meninggalkan dokumentasi.

Terlepas dari inkonsistensi pemerintah dalam menetapkan hari besar, satu hal yang perlu kita sadari betul adalah Kartini membawa spirit dan perubahan yang monumental dalam konstruksi kehidupan kita saat ini, khususnya bagi perempuan. Pada sebuah karya fenomenal yang dihasilkan Kartini yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang, tertulis surat-suratnya yang berisikan pemikiran tentang kondisi sosial saat itu, terutama kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya Jawa yang dipandangnya sebagai penghambat kemajuan perempuan. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Semangat Kartini, Saat Ini

Kini, hampir seabad kemudian, setelah memperingati 33 kali hari Kartini, sudahkan semua semangat dan cita-cita Kartini terealisasikan? Benarkah terang telah benar-benar datang mengusir gelap, atau apakah kita masih berada dalam daerah abu-abu yang terjebak di antara gelap dan terang?

Semangat Kartini di masa ini muncul dari sosok-sosok tangguh di berbagai bidang kehidupan. Megawati Sukarnoputri, seorang presiden perempuan telah turut menggores sejarah negara kita. Alexandra Asmasoebrata, seorang perempuan muda telah membuktikan kepiawaiannya sebagai pembalap. Melly Goeslaw, salah satu pencipta lagu dan penyanyi paling produktif di Indonesia. Butet Manurung, pendiri sekolah rimba dan aktivis pendidikan. Rosiana Silalahi, salah satu pemimpin redaksi program berita TV termuda di dunia. Sri Mulyani Indrawati, analis keuangan yang brilian. Obin, desainer yang memperkenalkan batik ke kalangan fashion mancanegara. Mereka semua adalah sedikit dari perempuan Indonesia yang telah mewarisi cita-cita Kartini dan dengan kapasitasnya masing-masing berhasil membuktikan eksistensinya sebagai perempuan yang setara dengan laki-laki dalam mengukir prestasi.

Tapi di sisi lain bumi Indonesia, kita masih dapat menjumpai adanya budaya patriarkis dominan yang memenjarai perempuan. Tentu kita masih ingat kasus Lisa, yang terpaksa harus menjalani operasi wajah total karena disiram air keras oleh suaminya. Atau banyaknya kasus pelecehan seksual, pandangan sebelah mata terhadap perempuan, serta lebih dihargainya masculine values dibanding feminine values. Hal ini masih diperparah oleh sosok perempuan yang digambarkan lewat media yang terus mereduksi gambaran perempuan, dan menghasilkan konstruksi gender yang justru semakin membuat posisi wanita terpuruk dalam patriarkisme.

Kartini dan Feminisme

Semangat luhur kesetaraan gender yang diperjuangkan oleh Kartini, yang kerap disebut feminisme itu sendiri ternyata mendapat banyak tentangan. Banyak yang beranggapan bahwa perempuan feminis adalah perempuan yang berusaha menentang kodratnya sendiri. Banyak juga yang menganggap feminisme sebagai sebuah turunan dari kapitalisme dan sekulerisme budaya barat, yang tidak sesuai untuk budaya orang timur.

Padahal, orang-orang yang berpikir demikian justru mereka yang tidak memahami apa sebenarnya yang diperjuangkan oleh gerakan feminis. Teori feminis modern bertolak dari beberapa pertanyaan sederhana ”Dan bagaimana dengan perempuan?”, ”Mengapa semuanya ini terjadi?”, ”Bagaimana kita dapat mengubah dan memperbaiki dunia sosial untuk membuatnya enjadi tempat yang lebih adil bagi perempuan dan bagi semua orang?”, serta ”Dan bagaimana dengan perbedaan di antara perempuan?” (Ritzer & Goodman, 2004).

Apa yang sebenarnya menjadi inti dari semua perjuangan Kartini, yang juga kita perjuangkan sebenarnya bukanlah apa yang orang kira selama ini. Perempuan tidak menuntut agar perempuan menjadi kepala keluarga. Bukan itu! Perempuan hanya menginginkan agar pria dan wanita, suami dan istri, mempunyai tingkat kedudukan yang sama di dalam keluarga, tidak ada yang lebih superior, dan bersama-sama saling mengisi. Sehingga tidak ada lagi tindak kekerasan, pelecehan, dan ketimpangan hak serta kewajiban dalam rumah tangga.

Perempuan tidak menuntut karier tinggi yang membuatnya merasa bebas dari tanggung jawab untuk mengasuh anak. Perempuan hanya menginginkan sebuah kesempatan untuk mengaktualisasikan diri dan mengeluarkan potensi. Perempuan menginginkan adanya kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, memilih pekerjaan yang ia sukai (termasuk pekerjaan yang masih dipandang sebelah mata jika dikerjakan wanita, seperti supir bis, petinju, dan sebagainya). Dengan demikian tidak lagi ada anggapan bahwa wanita tidak pantas menjadi presiden, atau tidak pantas menjadi pembalap. Perempuan menginginkan akses yang sama pada segala hal, berdasarkan kapasitasnya masing-masing.

Pada hakikatnya, perempuan bukan ingin dipandang sama dengan lelaki tetapi ingin dipandang sebagai sebuah individu yang setara dengan lelaki, sebagai manusia. Ingat, bukan sama melainkan setara. Karena perempuan dan laki-laki memang telah dilahirkan berbeda, baik secara anatomi, maupun emosi, maka kesamaan adalah sesuatu yang mustahil diraih dalam sebuah kondisi dualitas. Tetapi kesetaraan merupakan hal yang absolut, yang akan terus diperjuangkan untuk menciptakan kehidupan yang egaliter.

Dengan demikian, sudah sepantasnya terima kasih yang dalam kita haturkan pada ibu kita Kartini. Tanpa perjuangannya, mungkin kita semua saat ini masih dianggap sebagai ’konco wingking’ yang tugasnya hanya berkutat di dapur, sumur dan kasur. { }

Dec 7, 2006

POLIGAMI : SEBUAH BENTUK KEKERASAN DOMESTIK

Akhir-akhir ini kita tentu sering mendengar berita perihal pernikahan kedua Aa Gym yang menyebabkan isu poligami merebak kembali. Banyak kalangan yang angkat bicara seputar isu tersebut, mulai dari pemuka agama hingga ibu-ibu Rumah Tangga. Sebagian mengatasnamakan dalil agama untuk melegitimasi dibolehkannya poligami, namun sebagian lainnya tidak setuju karena merasa dirugikan. Begitu besarnya reaksi masyarakat perihal ini, sehingga Presiden SBY menghimbau rakyatnya untuk menanggapi permasalahan ini secara proporsional dan tidak berlebihan. Hal ini menunjukkan pada kita bahwa isu seputar poligami bukan lagi wacana seputar konteks keagamaan, namun telah menjadi isu sosial yang meresahkan masyarakat.
Oleh karena itu penulis lebih memilih untuk membicarakan mengenai poligami dari konteks sosial, bukan pada konteks keagamaan yang bersifat sensitif dan cenderung emosional.
Praktek poligami telah lama diterapkan masyarakat dunia, termasuk di Indonesia. Masyarakat sebagai suatu sistem yang dinamis selalu berusaha mencapai kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Parameter baik dan buruk dapat kita analisis dari fenomena yang terjadi pada masyarakat itu sendiri. Kenyataan yang terjadi saat ini, praktek poligami lebih banyak merugikan masyarakat. Berdasarkan data dari LBH APIK Jakarta tahun 2000 tercatat setidaknya tujuh macam dampak poligami terhadap perempuan sebagai istri pertama, seperti tercantum pada tabel berikut ini :

Tabel 1. Dampak Poligami terhadap istri pertama
No Jenis dampak Jumlah variasi dampak
1 Tidak diberi nafkah 37
2 Tekanan psikis 21
3 Penganiayaan fisik 7
4 Diceraikan oleh suami 6
5 Ditelantarkan / ditinggalkan suami 23
6 Pisah ranjang 11
7 Mendapat teror dari istri kedua 2
107
Catatan : ada istri yang menerima dampak lebih dari satu jenis
Sumber : LBH APIK Jakarta

Dampak poligami pada tabel di atas merupakan bentuk kekerasan domestik atau kekerasan Rumah Tangga, bahkan dapat diartikan sebagai penindasan yang merugikan terhadap perempuan. Tidaklah mengherankan apabila sejumlah negara Islam seperti Turki, Tunisia, dan Siria melarang dilakukannya praktek poligami ini. Mengutip dari Habib Bu Ruqayba, mantan Presiden Tunisia, bahwa “keluarga adalah tonggak masyarakat, dan keluarga dapat berhasil dengan baik hanya dengan dasar saling menghormati dan menghargai antar pasangan. Salah satu bentuk untuk saling menghormati dan menghargai adalah dengan melaksanakan pernikahan monogami”. Disini beliau menyadari bahwa keluarga memiliki peran penting sebagai tonggak masyarakat. Dengan menerapkan kebijakan larangan poligami beliau berusaha menyelamatkan masa depan anak-anak dan membiarkan mereka tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, serta tanpa konflik keluarga yang menimbulkan trauma.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara tingkat poligami pada masyarakat dengan pandangan masyarakat terhadap perempuan. Apabila posisi perempuan di masyarakat masih dinomorduakan setelah laki-laki, maka tingkat poligami mengalami peningkatan. Namun apabila posisi perempuan dalam suatu masyarakat adalah sebagai mitra sejajar laki-laki, maka tingkat poligami menurun. Bagaimana dengan Indonesia, berada di posisi manakah perempuan Indonesia?

diadaptasi dari berbagai sumber,
Nuri Nurlaila S
akulaila@yahoo.com

Oct 1, 2006

Bulan September 2006 : Perempuan dan Seni

Minggu 1 : Bedah Buku oleh Pengarang Perempuan
Oka Rusmini: Tarian Bumi
..... : Lelaki Berkabut dan Boneka

Bedah buku yang diikuti dengan diskusi mini tentang perempuan dan adat. Dalam bedah buku ini banyak dibahas mengenai pandangan adat Bali terhadap perempuan dan bagaimana pengarang-pengarang perempuan menuliskan pandangannya terhadap masalah perempuan.

Minggu 2 : Apresiasi Sastra oleh Penyair Perempuan
Tuty Heraty
Dina Oktaviani
(turut menghadirkan Widia dari Mnemonic)
Dalam apresiasi sastra ini banyak dibahas mengenai bagaimana cara menulis puisi, bagaimana para penyair perempuan menyuarakan 'hati'nya dan apresiasi terhadap puisi-puisi penyair yang terpilih. Satu poin terpentingnya ialah: saat menulis puisi hanya ada kita, kejujuran dan tuhan.

Minggu 3 : Diskusi Film Populer Perempuan
(batal terlaksana)

Minggu 4 : Kuliah Umum "Keberadaan Perempuan Perupa dalam Seni Rupa Dunia"
oleh Ibu Ira Adriati Winarno, M.Sn. (staf pengajar FSRD ITB)
baca beritanya di http://www.itb.ac.id/news/1222
Lingkar Peduli Perempuan, komunitas perempuan-perempuan bebas ITB yang bebas, independen dan berlandaskan hati nurani.

Komunitas ini sebenarnya telah mengalami pre-inisiasi sejak tahun 2005 oleh perempuan-perempuan hebat ITB, seperti Achie HMM'01, Anug PSIK'00, Puti HMM'01 dan Savit Kimia'02. Preinisiasi hanya berupa pengungkapan gagasan awal tentang pentingnya kajian masalah perempuan di ITB. Permasalahan gender yang ingin dikedepankan dalam kajian tersebut selama ini kurang dibahas dan didiskusikan pada unit-unit pendidikan ITB.

Masa preinisiasi lalu sempat berhenti karena minimnya anggota. Baru pada tahun 2006 ini, tepatnya setelah pencalonan Savit sebagai presiden KM 2006, tahap inisiasi kembali dilaksanakan. Kali ini tahap inisiasi dimulai dengan program 'gerilya' pencarian anggota baru. Program 'gerilya' dimulai dengan mengumpulkan perempuan-perempuan hebat ITB lainnya seperti Nuri BI'o3, Laras FA'03, Ochi TL'03, Eva TI'03, Hana GEA'05 dan saya sendiri.

Program 'gerilya' ini dilanjutkan dengan kuliah umum "Are U Beauty Enough?" oleh Bu Ciptati dan diskusi-diskusi kecil untuk pembentukan komunitas baru. Perkumpulan perempuan ini bukanlah inisiasi pembentukan unit gender [walaupun tujuan ini pernah tercetus], tapi perkumpulan ini berbentuk komunitas. Bentuk komunitas sengaja kami pilih karena sifatnya yang bebas, tidak mengikat dan tidak memiliki kepentingan politik tertentu. Akan tetapi demi memperoleh kemudahan birokrasi, komunitas ini bergabung dengan unit yang telah ada di ITB, yaitu PSIK. Tidak ada alasan tertentu mengapa kami memilih PSIK sebagai tempat bernaung selain kedekatan beberapa anggota terhadap unit ini.

Kesepakatan atas bentuk yang telah kami ambil, kembali membawa kami untuk 'bergerilya' mencari anggota baru. Apalagi waktunya bertepatan dengan masa penerimaan mahasiswa baru 2006. Selama OHU 2006, kami berusaha memperkenalkan komunitas kami dengan nama Lingkar Peduli Perempuan. Nama ini telah dicetuskan sejak awal inisiasi oleh Achie, akan tetapi kami tolak pada awalnya. Akan tetapi selama masa inisiasi, nama yang lain tidak juga kami peroleh. Sehingga kami akhirnya menggunakan nama ini untuk seterusnya.

Lingkar Peduli Perempuan memiliki satu kesatuan makna. Lingkar, berarti keakraban dan eratnya hubungan antar anggota. Peduli perempuan, berarti kepedulian terhadap permasalahan-permasalahan perempuan. Kata peduli perempuan bukan berarti merendahkan perempuan karena peduli bisa juga kita artikan menyayangi. Kami menyayangi perempuan dan sama-sama mengeratkan hati untuk membantu segala polemik dalam hidup perempuan. Bukan hanya perempuan ITB, tapi juga perempuan Indonesia.

Kami pun tidak menamakan diri kami Lingkar Perempuan, karena banyak juga lelaki yang peduli terhadap masalah perempuan. Kami tidak ingin memisahkan diri atas nama jenis kelamin, karena kami juga banyak didukung kaum adam.

Lingkar Peduli Perempuan kini telah diisi oleh wajah-wajah muda ITB, angkatan 2005-2006. Komunitas ini pun bertekad untuk lebih mencerdaskan perempuan-perempuan pintar ITB dengan berbagai pengetahuan hidup dan sosial. Tujuan komunitas ini pun hanya satu : menyatukan perempuan-perempuan ITB dalam satu wadah untuk saling berbagi !